Sedang Ramai Dibahas
light_mode
Trending Tags
Beranda » Healing Article » Sejarah Kerupuk Kemplang dengan Rasa yang Disukai Oleh Dunia

Sejarah Kerupuk Kemplang dengan Rasa yang Disukai Oleh Dunia

  • account_circle Yo Wen
  • calendar_month Kamis, 29 Agt 2024
  • visibility 147
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah Kerupuk Kemplang telah ada dan diwariskan secara turun-temurun. Kerupuk ini menjadi camilan ringan khas pesisir selatan Sumatera. Meliputi daerah Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung. Makanan yang berasal dari ikan ini sangat cocok untuk semua lidah.

Dahulu cemilan ini terbuat dari ikan Belida, yang merupakan ikon kota Palembang. Saat ini populasi ikan ini mulai jarang, sehingga diganti oleh ikan jenis lainnya, seperti gabus dan tenggiri. Bahkan pada beberapa daerah ada juga yang menggunakan cumi atau udang.

Nama Kemplang diambil dari dialek lokal Melayu Selatan, Kemplang dapat diartikan memukul. Proses pembuatan camilan yang berasal dari campuran ikan dan tepung tapioka ini, harus dengan dipukul. Adonan yang telah siap, di bentuk bulat gepeng lalu di pukul-pukul untuk meratakannya.

Ada juga yang menyebutnya dengan kelempang atau kelempelang. Hal ini karena bentuknya yang bulat saat dibakar ataupun digoreng dan akan menjadi lebar atau besar. Pengucapannya hampir sama, tapi kedua kata ini mempunyai arti yang berbeda.

Nama kemplang karena cara pembuatannya, sedangkan Kelempang karena bentuk makannya. Keduanya menjadi bagian warisan budaya lokal. 

Panganan khas ini masih bertahan hingga kini. Cita rasa panganan ini hampir menyerupai empek-empek, karena adonan yang digunakan hampir mirip.

Sejarah kerupuk kemplang akan membawa kita kembali ke abad 16. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada masa itu, banyak pedagang Tionghoa masuk ke Palembang, membawa masakan tradisionalnya. 

Makanan ini kemudian berkembang mengikuti cita rasa lokal, sehingga lahirlah jenis  makanan baru, salah satunya kerupuk Kemplang.

Sejak dahulu kemplang dibuat sebagai industri rumahan. Adonan yang terdiri dari tepung dan daging ikan dicampur menggunakan tangan. Adonan kemudian diuleni di sebuah meja kayu yang rata. Lalu dengan menggunakan kayu panjang, adonan di ‘kemplang’ agar pipih. Setelah itu dikukus dalam sebuah kuali besar ditutupi dandang khusus. 

Setelah matang, kerupuk yang masih basah disusun di atas papan penjemur. Proses penjemuran di bawah sinar matahari, hingga adonan kering. Kadang proses ini membutuhkan waktu berhari-hari.

Teknik memasak yang unik menjadi bagian sejarah Kerupuk Kemplang

Zaman dahulu memasak masih menggunakan tungku atau bara api. Begitu juga dengan camilan ini. Kerupuk yang sudah kering dibakar satu persatu di atas bara api atau pasir panas. Cara unik ini memberikan aroma yang khas. Penggunaan pasir yang bersih dan hawa panas dari api, dapat membunuh kuman dan bibit penyakit.

Panganan ini sejak dulu sudah menjadi camilan sehari-hari. Menikmatinya biasanya menggunakan sambal khusus. Bukan sambal terasi yang berwarna hitam, tetapi sambal cair dengan warna kemerahan dan aroma yang segar.

Sambal pedas menjadi bagian sejarah kerupuk kemplang. Sambal yang dibuat mendadak, tanpa bahan pengawet. Memberikan sensasi rasa pedas dan segar saat dinikmati bersama kerupuk. 

Cita rasa kerupuk Kemplang dan sambalnya yang khas, masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Walaupun berbagai cara modern digunakan, tetapi semua itu tidak mengurangi kenikmatannya.

Pada acara Asean Games, panganan ini menjadi salah satu kuliner favorit para atlet dan tamu dari negara asing. Keunikan cara membuatnya, serta rasa dan aroma  yang tidak biasa, menjadikan makanan ini sesuatu yang berbeda buat mereka.

Kuliner khas Palembang ini sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Jika tertarik mencicipinya, silahkan berkunjung ke Palembang. Lalu ceritakan pada dunia.  Sebagai cara melestarikan Sejarah Kerupuk Kemplang.

  • Penulis: Yo Wen

Healingers Bilang Apa? (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Pilihan Seru untuk Healingers

  • Makan Enak Tanpa Bikin Kantong Kaget di Rumah Makan Tip Top Magelang

    Makan Enak Tanpa Bikin Kantong Kaget di Rumah Makan Tip Top Magelang

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Healingers, kalau sedang jalan-jalan ke Magelang dan tiba-tiba lapar, kadang yang dicari bukan restoran mewah atau tempat makan yang sedang viral. Ada kalanya kita justru ingin menemukan rumah makan sederhana dengan pilihan lauk banyak, rasa yang familiar, dan harga yang masih nyaman di kantong. Salah satu tempat yang bisa masuk daftar adalah Rumah Makan Tip […]

  • Menyapa Matahari di Gereja Ayam Bukit Rhema: Petualangan Spiritual dan Kuliner di Magelang

    Menyapa Matahari di Gereja Ayam Bukit Rhema: Petualangan Spiritual dan Kuliner di Magelang

    • calendar_month Kamis, 5 Des 2024
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Desa Wisata Kembanglimus mungkin belum familiar di telinga banyak orang. Namun, jika mendengar nama Gereja Ayam, pasti banyak yang langsung teringat adegan Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2. Gereja unik ini terletak di Bukit Rhema, bagian dari Desa Wisata Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Selain menawarkan pengalaman spiritual, tempat ini juga […]

  • Moci Lampion Sukabumi: Ikon Kuliner Khas dengan Sentuhan Unik

    Moci Lampion Sukabumi: Ikon Kuliner Khas dengan Sentuhan Unik

    • calendar_month Minggu, 22 Sep 2024
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Sukabumi, sebuah kota kecil di Jawa Barat, terkenal dengan ragam kulinernya yang khas dan menggoda selera. Salah satu yang paling ikonik dan tak bisa dilewatkan saat berkunjung ke kota ini adalah Moci. Moci, makanan berbentuk bulat kecil dengan tekstur kenyal dan rasa manis, telah menjadi simbol kuliner Sukabumi. Namun, ada satu varian yang menarik perhatian, […]

  • Touring Seru ke Aruna Coffee Gunung Menir: Menikmati Sunset dan Kuliner Lezat

    Touring Seru ke Aruna Coffee Gunung Menir: Menikmati Sunset dan Kuliner Lezat

    • calendar_month Rabu, 27 Nov 2024
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Touring kali ini merupakan perjalanan dadakan. Setelah menimbang beberapa destinasi, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Aruna Coffee Gunung Menir, salah satu destinasi wisata kuliner yang terkenal dengan pemandangan sunset indahnya. Perjalanan Menuju Aruna Coffee Berdasarkan Google Maps, waktu tempuh perjalanan dari Bitung, Tangerang, menuju Aruna Coffee diperkirakan lebih dari 2 jam. Kami berangkat melalui rute […]

  • Hotel Amanjiwo Borobudur: Pengalaman Mewah Menginap di Magelang

    Hotel Amanjiwo Borobudur: Pengalaman Mewah Menginap di Magelang

    • calendar_month Senin, 9 Des 2024
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Berlokasi di tengah lanskap alam yang luar biasa, Hotel Amanjiwo Borobudur di Magelang menawarkan pengalaman menginap yang mewah dan tak terlupakan. Terletak dengan pemandangan langsung ke Candi Borobudur yang megah, hotel ini menggabungkan kemewahan modern dengan kearifan lokal, menciptakan suasana yang tenang untuk memanjakan tubuh dan jiwa para tamu. Pesona Lokasi Amanjiwo yang Tak Tertandingi […]

  • Amarah Warga Warnai Pembongkaran Tahap II Kawasan Puncak, Pemkab Bogor Dituding Diskriminatif

    Amarah Warga Warnai Pembongkaran Tahap II Kawasan Puncak, Pemkab Bogor Dituding Diskriminatif

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2024
    • account_circle Yo Wen
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Penertiban kawasan Puncak oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor hari ini dipenuhi kemarahan warga. Mereka menganggap Pemkab Bogor diskriminatif karena hanya menggusur pedagang kaki lima (PKL) dan tidak menyentuh sebuah restoran yang diduga juga melanggar izin. Penertiban tahap kedua mencakup area dari pintu masuk wisata Gantole hingga Puncak Pass. Sejumlah warga sempat menghalangi dan mengarahkan alat […]

expand_less