Pawon Mbah Sastro Citra Raya, Kuliner Jawa Prasmanan yang Bikin Kangen Kampung Halaman
- account_circle Yo Wen
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 183
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menjelang siang kali ini, saya tiba-tiba ingin menikmati masakan Jawa. Bukan restoran mewah atau makanan kekinian, tetapi masakan rumahan sederhana dengan aneka sayur dan lauk yang bisa kita pilih sendiri secara prasmanan.
Setelah cek Google Maps, pilihan saya jatuh ke Pawon Mbah Sastro Citra Raya. Dari Karawaci, waktu tempuhnya sekitar 25 menit. Tidak terlalu jauh, jadi langsung saja saya berangkat.
Ternyata perjalanan menuju Pawon Mbah Sastro cukup menarik, Healingers. Dari Karawaci, Google Maps mengarahkan saya melewati jalan baru di kawasan Paramount Petals yang baru dibuka untuk umum beberapa bulan lalu. Setelah itu perjalanan dilanjutkan melewati beberapa jalan kecil hingga akhirnya masuk kawasan Citra Raya.
Mendekati lokasi, saya sempat bertanya dalam hati, “Benar lewat sini?”
Pasalnya, untuk menuju warung makan ini saya harus masuk melalui sebuah jalan kecil. Untungnya tidak terlalu jauh, hanya beberapa ratus meter sebelum akhirnya sampai di Pawon Mbah Sastro.
Datang Jam 10.30, Menu Masih Lengkap
Saya tiba sekitar pukul 10.30 WIB. Menurut saya, ini waktu yang cukup ideal. Belum terlalu ramai oleh pengunjung makan siang dan, yang paling penting, pilihan makanannya masih lengkap.
Menurut salah satu pelayan, Pawon Mbah Sastro sudah menyiapkan berbagai menu sejak pukul 08.00 pagi. Jadi Healingers yang ingin sarapan dengan nasi, sayur dan lauk ala masakan rumahan Jawa juga sudah bisa datang sejak pagi.
Nama tempat ini sendiri sudah cukup menggambarkan konsep yang ditawarkan. Dalam bahasa Jawa, pawon berarti dapur. Jadi begitu mendengar nama Pawon Mbah Sastro, bayangan tentang dapur tradisional dengan masakan rumahan Jawa langsung muncul.
Dan ternyata memang seperti itu.
Begitu masuk, saya langsung disambut deretan masakan prasmanan yang membuat mata sibuk memilih.
Sayur Lodeh hingga Ayam Serundeng
Salah satu menu wajib yang langsung menarik perhatian saya tentu sayur lodeh. Saat itu tersedia sayur lodeh dan sayur lodeh tempe.

Sayur Lodeh Tempe di Pawon Mbah Sastro (Photo : Yowen)
Healingers bisa mengambil sayur langsung di piring bersama nasi atau menggunakan mangkuk tersendiri. Karena lodeh termasuk salah satu makanan favorit saya, sudah pasti saya memilih mangkuk terpisah.
Selain sayur lodeh tempe, pilihan saya jatuh pada oseng pepaya, jangan krecek, dan ayam goreng dengan taburan serundeng yang terlihat sangat menggoda.

Menu pilihan saya di Pawon Mbah Sastro (Photo : Yowen)
Oh iya, jangan bingung kalau mendengar istilah jangan dalam masakan Jawa. Dalam bahasa Jawa, jangan berarti sayur. Jadi jangan krecek bukan berarti “dilarang makan krecek”, ya, Healingers!
Ada pula telur kriwil atau telur crispy. Saya sebenarnya sempat mencari olahan telur lain, seperti oseng telur ceplok atau telur dengan bumbu rumahan yang sering ditemukan di warung makan Jawa. Sayangnya, saat saya datang pilihan olahan telur yang tersedia hanya telur kriwil.
Pilihan lauk lainnya sebenarnya cukup beragam. Konsep prasmanan seperti ini justru menyenangkan karena kita bebas menentukan sendiri kombinasi sayur dan lauk sesuai selera.
Rasanya? Ini Baru Masakan Jawa!
Setelah semua pilihan mendarat di meja, waktunya mencoba.
Dan… wah, cocok!
Buat saya yang pernah tinggal di Jawa Tengah, mencari masakan Jawa yang benar-benar cocok di lidah di kawasan Jakarta dan Tangerang terkadang cukup menantang. Banyak tempat menawarkan menu Jawa, tetapi rasa akhirnya belum tentu sesuai dengan cita rasa yang saya ingat.
Di Pawon Mbah Sastro, rasa masakannya justru mengingatkan saya pada masakan rumahan Jawa: sederhana, tidak perlu banyak gaya, tetapi nikmat ketika disantap bersama nasi hangat.

Menu prasmanan di Pawon Mbah Sastro (Photo : Yowen)
Harganya juga masih cukup ramah di kantong. Saat saya berkunjung, semangkuk sayur lodeh sekitar Rp10.000, oseng pepaya Rp3.000, dan ayam serundeng Rp14.000.
Suasana Joglo di Tengah Citra Raya
Bukan hanya makanannya yang membawa nuansa Jawa. Pawon Mbah Sastro Citra Raya juga memiliki bangunan bergaya joglo dengan dominasi meja dan kursi kayu serta berbagai ornamen bernuansa jadul.
Tempatnya memang tidak terlalu luas, tetapi menurut saya justru terasa lebih nyaman dan tidak kehilangan kesan warung makan rumahan.

Suasana di Pawon Mbah Sastro (Photo : Yowen)
Suasananya seolah mengajak kita berhenti sebentar dari wajah Citra Raya yang modern untuk duduk santai menikmati sepiring nasi, sayur lodeh, dan lauk rumahan.
Tips Sebelum Datang ke Pawon Mbah Sastro
Buat Healingers yang ingin mendapatkan pilihan menu lebih lengkap, saya sarankan datang pagi hingga sebelum jam makan siang.
Menurut salah satu pelayan, ketika sudah memasuki sekitar pukul 15.00, beberapa menu favorit biasanya mulai habis. Pawon Mbah Sastro sendiri hanya buka sampai pukul 18.00 WIB.
Jadi kalau sedang mencari kuliner Jawa di Tangerang atau sedang rindu masakan rumahan yang mengingatkan suasana Jawa Tengah dan Yogyakarta, Pawon Mbah Sastro bisa masuk dalam daftar kuliner yang wajib Healingers coba.
Siapa tahu, semangkuk sayur lodeh dan ayam serundeng di sini bisa sedikit mengobati rasa kangen dengan masakan kampung halaman.
Lokasi Pawon Mbah Sastro
Pawon Mbah Sastro
Jl. Tarisi No. 18, Mekar Bakti, Kec. Panongan, Kabupaten Tangerang, Banten 15710
Jam buka: 08.00–18.00 WIB
Buka: Setiap hari
- Penulis: Yo Wen







